Jurgen Habermas

Riwayat Singkat Jurgen Habermas

Jurgen Habermas lahir di Dusseldorf, Jerman pada tanggal 18 Juni 1929. Keluarganya berasal dari kelas menengah dan sedikit tradisional. Ayahnya adalah seorang pedagang kelas menengah dan usahawan industri. Ia lahir ketika Perang Dunia II yang menyebabkan jatuhnya Nazisme yang membawa pencerahan untuk masa yang akan datang. Namun Habermas kecewa, karena kenyataannya pada tahun-tahun pertama keruntuhnya Nazisme tidak ada kemajuan yang berarti. Pada masa muda Habermas, ia mengalami keterbatasan komunikasi yang diakibatkan oleh kekangan Nazisme. Dan ia pun tergerak untuk mengatasi hal ini. Habermas sangat optimis dengan kedamaian yang lahir setelah runtuhya Nazisme.

Jurgen Habermas adalah tokoh yang banyak mewarisi ideal-ideal modern Pencerahan. Ia adalah pembela gigih dari “kebaikan” dan berkesinambungan pemikiran modernis untuk masa kini, menolak pembantaian oleh post-modernisme kemungkinan manusia mencapai kemajuan melalui Kebenaran (Pip Jones; 2009 hal 232-233). Ia adalah seorang yang sangat mempercayai pencerahan di masa yang akan datang. Menurutnya, pencerahan dalam kekuasaan rasionalitas manusia mendorong kemampuan kita untuk mengetahui berbagai hal dengan pasti. Karena sebagai manusia, dengan menggunakan rasio kita, kita dapat menghilangkan perdebatan yang timbul akibat perbedaan dalam komunikasi. Menurutnya manusia mempunyai suatu kemampuan yang unik, yaitu berkomunikasi. Melalui komunikasi kita dapat saling mengerti satu sama lain tanpa memandang adanya suatu perbedaan.

Pada tahun 1959, Habermas tiba di Institut Penelitian Sosial di Frankfurt dan bergabung dengan Mahzab Frankfurt. Kemudian ia menjadi asisten dari Theodor Adorno dan sekaligus sebagai staf institusi. Pada tahun 1961 Habermas menjadi dosen muda dan menyelesaikan disertasi keduanya di Universitas Marburg. Kemudian pada tahun 1971-1981 ia menjadi direktur Max Planck Institute. Ia kembali ke Universitas Frankfurt dan menjadi guru besar filsafat dan emeritus pada tahun 1994. Ia memenangi sejumlah penghargaan akademis dan dianugerahi guru besar kehormatan di sejumlah universitas (George Ritzer; 2008 hal 626-627).

 

Habermas Versus Karl Marx

Pemikiran Habermas dengan Karl Marx tidak dapat dipisahkan. Teori kritis memakai Karl Marx sebagai landasan paling pokok untuk menganalisis masyarakat. Habermas masih tetap menggunakan pemikiran Marx, namun seperti golongan revisionis lainnya ajaran Marx hanya dipakai sebagai titik tolak (Drajat Tri Kartono; 2004 hal 66). Titik tolak tersebut adalah semangat Marx dalam memberikan angin segar untuk kaum buruh yang secara tidak sadar telah mengalami ketertindasan. Hal ini tercermin pada Habermas yang ingin menciptakan kedamaian setelah keruntuhan Nazisme. Dalam hal ini, ia menyempurnakan pemikiran Marx. Jika Marx terpusat pada “kerja” maka Habermas lebih memandang “komunikasi” sebagai proses yang lebih umum untuk masyarakat modern. Habermas memperdalam teori-teorinya dalam kerangka psikoanalisis Freudian.

Menurut Habermas, Marx mengabaikan interaksi sosial dan menyederhanakannya menjadi kerja. Habermas memusatkan perhatiannya pada bagaimana struktur masyarakat modern mendistorsi komunikasi. Habermas (dalam Ben Agger; 2003 hal 189) mengutarakan ketidaksetujuannya dengan Marx bahwa orang diciptakan sepenuhnya melalui kerja manusia. Habermas justru berpandangan bahwa orang menghumanisasi dirinya melalui interaksi. Hanya dengan interaksi dan komunikasi orang dapat menguasai masyarakat, membentuk gerakan sosial, dan meraih kekuasaan.

Dalam hal ini sangatlah jelas bahwa perbedaan antara Habermas dengan Marx terletak pada tindakan komunikatif, bukan tindakan rasional-bertujuan (kerja). Tindakan komunikatf merupakan tindakan yang bebas dari kekuasaan dan unsur kepaksaan. Meskipun seringkali terdapat pertentangan atau perdebatan namun semua itu berasal dari hati. Sedangkan kerja merupakan sesuatu hal yang dilakukan untuk memperoleh suatu tujuan tertentu. Kesalahan yang dilakukan dalam pekerjaan menyebabkan suatu kegagalan. Pekerjaan masih melalui tahapan dominasi atau paksaan berupa perintah atau pengawasan dari atasan. Sedangkan komunikasi berasal dari hati yang tidak bisa dikendalikan atau didominasi oleh orang lain.

Habermas mengatakan bahwa analisis perkembangan masyarakat modern Marx telah gagal, karena realisasinya hanya melihat perkembangan masyarakat yang bertumpu kepada kepemilikan alat-alat produksi. Hal ini membawa perkembangan analisis tindakan manusia yang lain, yaitu komunikasi. Menurut Habermas (dalam Ben Agger; 2003 hal 178) kegagalan Marx menyebabkan teoritisi selanjutnya seperti Adorno, Hokheimer dan Marcuse yang dipengaruhi oleh kritik Heidegger atas teknologi, berspekulasi bahwa teknologi dapat ditransformasikan menjadi bentuk kerja yang tak teralienasi (praksis Kreatif). Dengan melihat kegagalan analisis Marx tersebut, Habermas tidak menganggap ajaran Marx sudah basi dan harus ditinggalkan. Habermas tetap menggunakannya sebagai sarana kritik terhadap realitas masyarakat. Jadi dasar dari pemikiran Habermas tetap mengacu pada titik tolak Karl Marx.

 

Modernitas Sebagai Proyek Yang Belum Selesai

Modernitas menurut Jauss telah digunakan sejak abad V. Kata Modernisme berasal dari kata modernus yang digunakan sebagai batas antara era Roma yang menyembah berhala dan era Kristen yang menyembah Tuhan. Modernisme juga dipergunakan dalam era Renaisance (abad ke 14-15), yaitu merujuk pada kebangkitan filsafat Yunani Kuno. Sehingga modernisasi sering diartikan sebagai perubahan sosial untuk memperoleh bentuk baru (Drajat Tri Kartono; 2004 hal 68).

Berawal dari padangan tentang adanya kedamaian setelah keruntuhan Nazisme, Habermas terus berpegang pada harapan masa depan dunia modern. Habermas menulis tentang modernitas sebagai proyek yang belum selesai. Habermas mendambakan masyarakat masa depan yang ditandai oleh komunikasi yang bebas dan terbuka, komunikasi bebas distorsi dan tanpa paksaan. Habermas tidak lagi hanya melalukan kritikan terhadap ratio, namun merubah arah analisisnya ke dalam bahasa (komunikatif). Habermas mencurahkan perhatiannya kepada struktur sosial yang mendistorsi komunikasi, sebagaimana ketika Marx menelaah sebab-sebab struktural distorsi kerja.

Tindakan dasar manusia menurut Habermas bukan hanya kerja melainkan juga berkomunikasi. Keduanya merupakan tindakan dasar manusia, namun memiliki perbedaan yang sangat berarti. Tindakan bekerja lebih menggambarkan hubungan manusia dengan alam, sehingga mengarahkan bagaimana manusia menguasai alam. Sedangkan berkomunikasi menggambarkan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa berkomunikasi tidak ada bentuk penindasan karena tidak ada unsur paksaan melainkan berasal dari hati.

Hakikat kehidupan manusia menurut Habermas ada dua, pertama adalah hakikat hubungan manusia dengan alam yang bisa diperoleh lewat kerja. Hubungan manusia dengan alam bersifat eksploitasi. Manusia harus menundukkan alam dan mengolahnya demi pemenuhan kebutuhan, meskipun kemudian hubungan ini terbalik. Hakikat kedua adalah hubungan manusia dengan manusia lain. Hubungan manusia dengan manusia bersifat setara, tidak terdapat penindasan dalam komunikasi (Drajat Tri Kartono; 2004 hal 70).

Komunikasi rasional itu unik bagi manusia dan Habermas berpendapat bahwa kemampuan inilah yang memberi kita kesempatan untuk hidup di suatu dunia yang tidak hanya dimiliki bersama secara fisik tetapi juga secara moral (Pip Jones; 2009 hal 239). Kita hidup di dunia ini adalah dengan saling berdampingan dengan berbagai macam perbedaan (lintas-budaya) lalu kemudian apa yang harus kita lakukan untuk mempersatukan pandangan, pemikiran, persepsi agar kita dapat selalu sependapat meskipun berbeda? Yaitu dengan menggunakan komunikasi. Seperti yang dikatakan Habermas diatas bahwa manusia memiliki keunikan yaitu dapat berkomunikasi. Manusia akan senantiasa menggunakan akal sehatnya dan maka itulah ia pasti akan melakukan komunikasi dengan manusia yang lain untuk menyampaikan sesuatu yang diharapkan. Dan jika kedua belah pihak sudah saling menyetujui maka kesepakatan itu pasti diraih. Selama yang kita hadapi selalu menggunakan nalar atau rasional maka perbedaan-perbedaan yang ada dapat diatasi.

Menurut Habermas, karya pemikir sebelumnya lebih mengutamakan rasionalisasi tindakan rasional-bertujuan yang menyebabkan tumbuhnya kekuatan produktif  dan meningkatkan kontrol teknologi atas kehidupan (Habermas, 1970 dalam Ritzer; 2008 hal 311). Dimana menurut Weber dan Marx rasionalisasi ini merupakan satu-satunya masalah bagi dunia modern. Sedangkan menurut Habermas, permasalahan rasionalisasi tindakan rasional-bertujuan terdapat pada rasionalisasi tindakan komunikatif. Rasionalisasi tindakan komunikatif menyebabkan komunikasi yang bebas dari dominasi, komunikasi yang bebas dan terbuka. Bagi Habermas, titik akhir evolusi adalah masyarakat rasional dimana tidak ada lagi kendala yang mendistorsi komunikasi, gagasan disajikan secara bebas dan dipertahankan dari kritik serta bebas dari hambatan apapun.

Sejauh ini Habermas melihat bahwa modernitas merupakan suatu proyek yang belum terselesaikan. Hal ini berarti masih banyak hal lainnya yang harus dilakukan di dunia modern untuk menuju masyarakat postmodern. Sistem sosial yang diciptakan oleh masyarakat modern tumbuh menjadi sangat kompleks. Semula yang semuanya diciptakan manusia untuk kemudahan hidupnya justru menjadikan manusia tergantung dan seakan tidak dapat terlepas dari sistem sosial tersebut. Dalam hal ini sistem sosial tidak termasuk pengetahuan dan ranah kebenaran nilai, kebaikan dan keindahan. Masyarakat rasional adalah masyarakat yang dapat merasionalkan sistem dan kehidupannya sendiri sesuai dengan logikanya sendiri. Hal ini membawa masyarakat pada kemakmuran materi dan kontrol atas lingkungannya sebagai akibat dari sistem rasional. Namun di kehidupan modern, hal ini membawa keterpurukan bagi masyarakat itu sendiri. Sistem telah mendominasi dan mengolonisasi kehidupan. Akibatnya, meskipun kita menikmati hasil rasionalisasi sistem, namun kita tengah miskin dengan kekayaan hidup yang berasal dari dunia kehidupan yang mungkin tumbuh.

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, bukan dengan cara menghancurkan sistem yang telah ada, karena sistemlah yang memberikan syarat untuk merasionalisasikan kehidupan. Habermas mengemukakan dua cara untuk menyelesaikan hal ini. Pertama, “kendala-kendala yang menghambat” harus ada yang mereduksi dampak sistem dunia kehidupan. Kendala-kendala yang menghambat dalam kehidupan harus dikurangi bahkan dihilangkan. Kedua, “sensor” harus dilakukan untuk mendorong dampak dunia kehidupan terhadap sistem. Menurut Habermas, masalah-masalah di dunia modern tidak dapat diselesaikan, namun sistemlah yang harus belajar agar berfungsi dengan baik. Dalam hal ini berarti rangsangan dari dunia kehidupan harus mampu masuk ke dalam pengendalian diri sistem fungsional.

Dimuat di SOLOPOS loooh :)

Pythagoras, Filsafat dan Matematika

Pythagoras adalah salah seorang pemikir dan tokoh matematik Yunani Kuno yang mengemukakan sebuah ajaran metafisika bahwa bilangan merupakan intisari dari semua benda serta dasar pokok dari sifat-sifat benda. Dalilnya berbunyi : “Number rules the univers” (bilangan memerintah jagad raya ini) (The Liang Gie; 2010 hal 5). Ia adalah pendiri mahzab filsafat Pythagoreanisme yang mengajarkan bahwa bilangan adalah substansi dari semua benda. Ia berpendapat bahwa matematika merupakan sarana atau alat bagi pemahaman filsafati. Matematika dalam pengetahuan berarti perkembangan yang cepat. Pada zaman Yunani Kuno, berkembang setidaknya empat bidang pengetahuan, yaitu filsafat, ilmu, matematika dan logika. Dimana keempat pengetahuan ini saling berkaitan satu sama lain atau disebut sebagai episteme (suatu kumpulan dari pengetahuan). Matematika sejak semula hingga dewasa ini menjadi pendorong dan memacu pertumbuhan bagi perkembangan ketiga bidang pengetahuan lainnya. Matematika sejak semula menjadi pendorong bagi perkembangan filsafat. Bahkan hingga sampai saat ini keduanya saling mempengaruhi. Filsafat mendorong perkembangan matematika dan sebaliknya matematika juga memacu pertumbuhan filsafat. Bahkan sejak zaman kuno sampai abad modern matematika merupakan sumber penting bagi pemikiran filsafati karena memberikan pemecahan berbagai persoalan kehidupan. The Liang Gie (2010; 19) kaitan erat antara matematika dengan ilmu-ilmu modern kiranya tidak perlu dipersoalkan lagi. Pada abad XVII matematik menjadi perintis dan bagian yang terpenting dari ilmu alam. Pada dewasa ini banyak ahli matematika menyatakan bahwa matematika adalah bahasa dari ilmu.

Masih ingatkah saat kita duduk dibangku sekolah? Kata “matematika” menjadi salah satu momok yang sangat menakutkan. Guru yang galak, menghitung hingga ribuan bahkan jutaan angka dengan rumus-rumus yang begitu banyaknya. Namun tahukah bahwa matematika juga sebagai bahasa? Berikut adalah pengandaiannya.

Alkisah diceritakan sepasang kekasih yang sedang duduk berdua ditaman. Dikarenakan suatu permasalahan, merekapun bertengkar. Keduanyapun saling bertanya kepada orang yang mereka anggap berpengalaman untuk mencari solusi dari pertengkaran tersebut. Orang yang dianggap berpengalaman ini pun menjawab “berbicaralah dengan bahasa matematika”. Merekapun diam sejenak untuk mencerna kalimat tersebut. Beberapa saat kemudian, sepasang kekasih tersebut saling bertatapan. Si pria pun mengacungkan satu jari telunjuknya, beberapa saat kemudian ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil berkata “Kita adalah satu pasangan kekasih dan dua pasang pisau dalam gunting yang tidak dapat digunakan bila hanya sebelah. Maka, kita harus bersama-sama untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada”. Ketika mendengar ucapan tersebut, maka si wanitapun tersenyum bahagia dan memeluk si pria.

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dan pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati (Jujun Suriasumantri; 1984). Seperti dalam perumpamaan diatas, jika “satu” dan “dua” tidak diberikan suatu pemaknaan, maka itu hanya berarti angka-angka mati semata. Ketika si pria mengatakan sesuatu dibelakangnya, maka angka tersebut menjadi memiliki makna tertentu. Dalam hal ini matematika juga dapat dikatakan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Dalam melakukan sebuah interaksi sosial dengan orang-orang disekitar kita, tanpa kita sadari kita telah menggunakan serangkaian angka, lambang hingga rumus-rumus matematika meskipun yang paling sederhana.

Disamping sebagai bahasa, matematika juga berfungsi sebagai sarana berfikir. Ilmu pengetahuan apapun merupakan suatu analisis yang digunakan untuk menarik suatu kesimpulan. Seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan dalam suatu permasalahan. Sebagai contoh ketika kita berbelanja, saat menghitung jumlah total uang yang akan kita bayar, maka ada beberapa serangkaian analisis yang kita lakukan untuk mendapatkan total belanjaan kita. Kita harus melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan sebagainya untuk menarik kesimpulan akhir yang berupa total uang yang harus kita bayar.

Matematika selalu melingkupi kehidupan kita sehari-hari. Dalam mengerjakan soal matematika, selalu diperlukan suatu rumus dan serangkaian proses yang dilakukan untuk menghasilkan jawaban yang tepat. Hal ini sesuai dengan kehidupan sehari-hari kita. Matematika mengajarkan kita untuk menyelesaian masalah yang kita hadapi. Matematika mengajarkan kita untuk mencari cara yang tepat dan menjalakan cara tersebut untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan. Dengan matematika kita dapat mengetahui betapa banyak kesabaran yang kita perlukan untuk menghasilkan sesuatu hal yang memuaskan.

Matematika juga sering digunakan dalam sebuah penelitian. Dalam penelitian tersebut matematika berfungsi untunk penarikan kesimpulan secara deduktif. Berfikir deduktif adalah pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan dan menghasilkan suatu simpulan yang dikatakan benar. Kesimpulan deduktif adalah penarikan kesimpulan dari kasus yang umum kepada kesimpulan yang bersifat khusus. Sebagai contoh adalah mengerjakan soal matematika. Dimana kita dihadapkan pada suatu persoalan penyelesaian masalah dengan satu kesimpulan atau jawaban yang benar.

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa matematika merupakan bahasa yang afisial yang dapat menjawab kekurangan dari bahasa verbal. Matematika dapat membantu untuk memperlancar komunikasi antar manusia. Matematika dapat membantu memecahkan masalah manusia dalam kehidupan sehari-hari. Matematika bagi pengetahuan adalah sebuah perkembangan yang sangat cepat. Tanpa adanya matematika maka pengetahuan hanya berhenti pada tahap kualitatif yang tidak memungkinkan untuk meningkatkan penalarannya. Matematika tanpa kita sadari selalu ada dan selalu kita hadapi dalam aktivitas kita setiap detiknya. Matematika telah banyak berpengaruh pada kehidupan manusia dari dulu hingga dewasa ini. Maka dari itu, terdapat jurang pemisah yang sangat dalam antara mereka yang mau belajar matematika dengan mereka yang enggan belajar matematika. Lalu, bagaimana teman-teman? Masihkah malas untuk menghadapi matematika?

review Kembali ke alam: belajar dari etika masyarakat adat

Benar yang dikatakan bahwa keadaan masyarakat dunia saat ini sedang dalam tahap mengeksploitasi alam secara besar-besaran yang menyebabkan krisis lingkungan. Banyaknya dampak yang telah ditimbulkan menyebabkan manusia saat ini dalam keadaan tersiksa, yaitu tersiksa karena ulahnya sendiri terhadap alam ini. Seakan-akan alam memberikan balasan atas apa yang telah dilakukan sebelumnya oleh manusia. Saat tersadarkan, manusia ingin kembali ke alam, terlihat dengan banyak perlakuan yang mereka lakukan untuk mengembalikan keadaan alam seperti semula. Seperti penanaman kembali hutan yang gundul dengan gerakan menanam seribu pohon, menanam hutan mangrove untuk mencegah pengikisan tepi pantai, mengolah sampah untuk mengurangi plastik dan sebagainya. Bahwa apa yang telah dilakukan saat ini (ekosentrisme dan biosentrisme) sesungguhnya telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat tradisional di berbagai belahan bumi. Mereka telah lama menghormati alam semesta ini sebagai tempat berlangsungnya semua kehidupan. Sebagian diantaranya masih bertahan, ada pula yang telah terpengaruhi pengetahuan bahkan ada pula yang telah terkikis oleh modernisasi. Keadaan tersebut sesungguhnya telah mengubah cara pandang kita terhadap antroposentrisme untuk kembali pada biosentrisme dan ekosentrisme. Cara pandang etika lingkungan sesungguhnya menyadarkan kita untuk kembali pada cara masyarakat adat dalam menghormati lingkungan.

Masyarakat adat adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat lain. Mereka memiliki berbagai aturan atau hukum yang mereka buat sendiri. Masyarakat adat adalah masyarakat awal yang mendiami suatu tempat tertentu sebelum datangnya penjajah. Masyarakat adat hidup jauh sebelum terbentuknya suatu negara modern. Beberapa ciri yang membedakan masyarakat adat dengan masyarakat lainnya. pertama, mereka mendiami tanah-tanah milik nenek moyang mereka; kedua, mereka mempunyai garis keturunan yang sama; ketiga, mereka mampunyai budaya yang khas yang menyangkut agama, pakaian, tarian, peralatan hidup, cara pandang dan sebagainya; keempat, mempunyai bahasa sendiri dan yang kelima biasanya mereka hidup terpisah dari kelompok masyarakat lain. Jumlah masyarakat adat pun mendominasi yaitu sekitar 70-80 persen dari seluruh masyarakat budaya. Jadi etika lingkungan mempunyai cara pandang yang sama dengan masyarakat adat terhadap lingkungannya. Dalam masyarakat adat, agama dipahami sebagai tata cara hidup untuk menata secara harmonis hubungan sesama manusia dan alam. Dalam hal ini masyarakat adat memandang bahwa mereka selalu ingin membentuk suatu hubungan yang baik dengan alam, masyarakat, hal yang gaib dan sebagainya. Sikap baik dan menjaga hubungan dengan tidak berperilaku yang merugikan, menjadi prinsip moral yang harus selalu dipatuhi. Sikap moral masyarakat adat bukan hanya menyangkut hubungannya dengan sesama namun berhubungan dengan alam. Jadi dapat dikatakan bahwa berbagai bencana alam merupakan hasil sikap batin manusia yang tidak baik terhadap alam. Benar bahwa dikatakan jika masyarakat adat merupakan masyarakat yang memiliki hubungan baik dengan alam. Mereka menjaga keadaan lingkungannya dengan berhubungan baik dengan tanaman, binatang, sungai, gunung, laut danau dan sebagainya. Menjaga sikap moral bukan hanya dengan sesama manusia melainkan juga menjaga moral yang baik terhadap lingkungan. Apa yang dilakukan manusia terhadap alam tentunya akan menentukan nasib manusia itu sendiri.

Perilaku etika lingkungan sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru sama sekali, namun merupakan suatu gerakan yang kembali pada kearifan lokal yang kembali pada pemahaman lama tentang etika lingkungan masyarakat adat. Dalam masyarakat adat memahami bahwa kehidupan alam semesta ini memiliki ketergantungan yang erat satu sama lain. Manusia adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan alam. Manusia membutuhkan hasil alam dan sebaliknya alam pun membutuhkan manusia untuk menjaga dan merawat agar lingkungan tersebut dalam keadaan yang baik. Hal ini juga terjadi dalam masyarakat kasepuhan di Jawa Barat yang menyatakan bahwa sistem sosial dengan sistem alam berhubungan dengan baik. Maka perlu ada hubungan yang harmonis antara alam dengan manusia. Dan ketika terjadi kekacauan alam karena ulah manusia, perlu diadakan upacara-upacara tertentu untuk memulihkan keadaan tersebut. Hampir semua masyarakat adat sangat mementingkan keadaan tanah, karena tanah merupakan tempat berlangsungnya kehidupan dan merupakan sumber kehidupan. Tanah merupakan ibu yang yang memberikan hidup dan memancarkan kehidupan. Tahan bukan hanya sebagai sumber kehidupan biologis melainkan juga sumber terciptanya budaya dan spiritual. Dalam doa setiap masyarakat suku Lokota pada masyarakat Indian, selalu diakhiri dengan sapaan “semua relasiku”. Dalam hal ini mereka mengungkapkan bahwa semua seisi alam semesta ini adalah kerabatnya. Relasi dengan semua kehidupan ini menjadi hal yang sangat baik. Bagaimana hasil tangkapan ikan, panen tumbuh-tumbuhan adalah bagaimana hubungan yang baik antara manusia dengan alam sehingga menghasilkan kebaikan pula. Pada masyarakat Mentawai memiliki pandangan yang menganggap bahwa semua ciptaan Tuhan merupakan satu-kesatuan yang harmonis. Dimana masing-masing mempunyai kepribadian dan penunggunya sendiri, binatang dan tumbuhan tidak boleh dimanfaatkan oleh manusia. Mungkin dalam hal ini tidak terlalu berlebihan. Padahal masyarakat adat sangat menggantungkan hidupnya dengan alam (binatang dan tumbuhan). Berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan hasil hutan adalah praktik kegiatan sehari-hari. Namun semua itu dikaitkan erat dengan sakralitas. Upacara religius mengekspresikan rasa hormat mereka terhadap hasil alam yang mereka peroleh. Hal ini semacam “meminta ijin” yang sekaligus berarti pengluhuran terhadap makna kehidupan itu sendiri, yaitu dikorbankan demi makhluk lain (manusia).

Hal tersebut diatas sangat berbeda sekali dengan kehidupan berburu masyarakat modern yang mengutamakan antroposentrisme. Tanpa menghiraukan keadaan dan hubungan dengan alam. Ini sebagai tindakan yang mencerminkan berkuasanya manusia terhadap alam. Seperti halnya manusia saat ini dalam memelihara binatang. Sikap menyayangi mereka bukan ditujukan untuk kenyamanan binatang tersebut melainkan kepuasan manusia. Sedangkan bagi masyarakat adat, hubungan antara manusia dengan alam merupakan hukum moral. Tanpa sikap hormat terhadap alam maka tidak akan tercipta suatu hubungan yang harmonis. Sikap hormat tersebut akan membawa kehidupan  yang berjalan terus-menerus. Hukum moral tersebut merupakan hukum alamiah yang menentukan saling menyayangi dan melindungi di antara semua kehidupan itu sendiri.

Kemudian apa yang dimaksud dengan kearifan tradisional adalah bukan hanya menyangkut pngetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana hubungan diantara manusia namun juga pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat yang menyangkut hubungan tentang manusia, alam dan bagaimana hubungan antara manusia dan alam tersebut. Kearifan tradisional ini diwariskan secara turun-temurun baik terhadap sesama manusia, alam maupun Yang Gaib. Kearifan tradisional adalah milik komunitas. Tidak ada kearifan lokal yang berdiri secara individual, semua disebarluaskan secara kolektif bagi semua anggota komunitas. Ia terbuka untuk diketahui, bahkan harus diajarkan secara terbuka kepada semua anggota komunitas. Kemudian kearifan tradisional juga berarti pengetahuan tradisional. Dalam masyarakat adat, kearifan adalah pengetahuan bagaimana bersikap baik dalam berhubungan dengan alam. Pengetahuan ini juga mencakup bagaimana memperlakukan setiap bagian dari alam sedemikian rupa, baik untuk mempertahankan kehidupan spesies tertentu maupun seluruh kehidupan alam ini. Oleh karena itu ada peraturan tertentu dalam setiap aktivitas yang dilakukan, seperti kapan waktu yang tepat untuk panen, berburu dan sebagainya.

Selanjutnya bahwa kearifan tradisional bersifat holistik karena menyangkut seluruh pengetahuan dan pemahaman tentang seluruh kehidupan dan relasinya dengan alam semesta. Alam merupakan satu kesatuan relasi yang saling berhubungan dengan baik dan tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu alam merupakan pengetahuan yang menyeluruh. Begitu juga manusia yang memahami alam sebagai subyek. Alam tidak bisa dilihat semata-mata ditangkap dan dianalisis namun alam penuh dengan nilai dan pesan moral. Dimana nilai dan pesan moral tersebut harus dipahami sebagai perintah yang harus dilakukan oleh manusia. Begitu juga dengan masyarakat adat yang memaknai setiap aktivitasnya sebagai aktivitas moral. Kegiatan bertani, berburu dan menangkap ikan bukan hanya sekedar kegiatan penerapan ilmiah saja melainkan mengandung moral-moral tabu yang bersumber dari kearifan tradisional. Aktivitas tersebut tidak bisa dijelaskan secara rasional namun dipahami melalui kearifan tradisional. Sebagai contoh adalah mengapa ketika hendak menangkap ikan paus di desa Lamatera Lembata NTT yang harus berdoa dan tidak boleh berkata-kata kasar atau jorok? Tidak dapat diartikan secara rasional. Namun ketika tidak berdoa dan berkata jorok saat menangkap ikan paus, mereka akan gagal mendapatkannya. Dan ini juga sulit untuk dijelaskan secara rasional. Yang terakhir adalah kearifan tradisional adalah tidak seperti halnya pengetahuan barat yang bersifat universal, namun kearifan tradisional bersifat lokal terkait dengan tempat yang partikular dan konkret. Kearifan tradisional selalu menyangkut tempat dimana masyarakat itu tinggal, alam dan relasinya dengan alam tersebut. Namun, karena manusia itu bersifat universal, maka secara dengan sendirinya kearifan tradisionalpun bersifat menyeluruh.

Mengapa kearifan tradisional saat ini jarang ditemukan atau bahkan punah?:

  1. Terjadinya skralisasi alam oleh pengetahuan dan teknologi modern. Alam memiliki arti misteri yang tidak dapat dipecahkan berdasarkan rasional seperti yang disebutkan diatas. Namun dengan pengetahuan dan teknologi segala bentuk misteri ini dijadikan sebagai obyek dalam kimia, fisika dan biologi yang bisa diuraikan. Alam pun sudah tidak dihormati lagi sehingga manusia yang seharusnya mengagungkan alam menjadi tidak peduli dan tidak merawat alam ini lagi. Konsekuensi dari pengetahuan dan teknologi ini mengakibatkan perlakuan yang sewenang-wenang dan eksploitasi terhadap alam sehingga sakralitas alampun hilang diikuti dengan kearifan tradisional yang bahkan ikut punah.
  2. Nilai skralitas alam hilang karena timbulnya suatu nilai ekonomis dari alam. Alam mengandung sejuta harta karun yang harus dimanfaatkan oleh manusia untuk mengubah nasib hidupnya. Keterbelakangan ini harus ditinggalkan yaitu dengan jalan memanfaatkan alam, mengeksploitasinya dan mengorbankan alam demi nilai ekonomisnya. Manusia tidak boleh bergantung dengan alam lagi melainkan dengan akal budi dan teknologi harus memanfaatkan alam, maka seluruh kearifan tradisionalpun akan menghilang.
  3. Dominasi filsafat Barat yang bersumber dari Aristoteles dan diperkuat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubur dalam-dalam etika masyarakat adat. Dengan melihat manusia sebagai makluk sosial dan dengan membatasi etika sebagai hanya berlaku pada manusia, maka etika masyarakat adat telah dilupakan oleh masyarakat modern. Etika masyarakat adat yang dipahami memiliki hubungan atau relasi dengan alam saat ini telah hilang dengan adanya dominasi Barat.
  4. Hilangnya keanekaragaman hayati sebagai akibat modernisasi dengan pembangunan sebagai pembangunan masyarakat modern, terjadi kehancuran dan kepunahan keanekaragaman hayati yang begitu kaya pada masyarakat tradisional. Dampak dari semakin punahnya keanekaragaman hayati ini adalah semakin hilangnya kearifan tradisional dengan segala nilainya. Karena kearifan tradisional berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati.
  5. Hilangnya hak-hak masyarakat adat, termasuk hak untuk hidup dan hak untuk bertahan sesuai dengan jati dirinya, budayanya dan cara menentukan hidup mereka sendiri. Ditengah masyarakat modern dan pengaruh Barat, masyarakat tradisional kehilangan hak untuk hidup. Apa yang mereka kenal seumur hidup tidak mendapat tempat dalam kerangka hukum dan etika modern. Bersamaan dengan hilangnya hak-hak masyarakat tradisional berarti juga hilangnya kearifan tradisional.

Pembangunan masyarakat modern saat ini yang bertujuan untuk memperbaiki kehidupan yang lebih baik lagi justru telah menggerus keadaan masyarakat adat. Hal ini dikarenakan pembangunan modern sangat berbanding terbalik dengan keadaan tradisional. Masyarakat modern menganggap bahwa masyarakat adat sebagai perusak lingkungan yang harus disingkirkan. Padahal justru masyarakat adatlah yang menjaga keadaan alam agar tetap baik dan lestari dari gangguan pendatang. Pembangunan masyarakat modern tidak melihat alam dari sisi sosial, moral, budaya dan spiritual melainkan hanya melihat alam sebagai sisi ekonomis yang mendatangkan uang. Nilai sosial, budaya, moral dan spiritual dianggap tidak memiliki arti apapun dalam modernisasi. Dalam hal ini sangat diperlukan pengakuan hak-hak masyarakat adat oleh seluruh masyarakat dunia. Dengan pengakuan tersebut dapat menjaga kearifan tradisional yang dapat mengubah cara pandang masyarakat modern terhadap alam. Pengakuan ini harus di-sahkan oleh suatu forum internasional. Harus diakui bahwa saat ini krisis ekologi telah menentang ilmu pengetahuan dalam memanfaatkannya. Oleh karena itu hak-hak masyarakat adat harus diakui guna menyelamatkan kearifan lokal dan etika masyarakat adat tersebut. Upaya penyelamatan ini dapat dilakukan melalui hukum dan politik yang tegas.

Berikut adalah hak-hak masyarakat adat yang perlu mendapatkan perlindungan :

  1. Hak untuk menentukan diri sendiri. Dalam hal ini masyarakat adat memiliki hak mempunyai posisi legal dan moral yang setara dengan masyarakat lain untuk didengar dan dilibatkan dalam proses politik. Termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri adalah hak untuk pindah tempat tinggal, hak untuk mempertahankan atau meninggalkan tradisi budaya dan gaya hidup.
  2. Hak atas teritori dan tanah. Hal ini menjadi penting karena teritori dan tanah sudah melekat dalam diri dan budaya mereka. Termasuk di dalam hak teritori dan tanah ini adalah hak untuk tidak dipindahkan dari tanah leluhurnya, hak untuk menggunakan tanah dan sumber daya alam yang ada didalamnya dan hak untuk melindungi tanah milik mereka. Hak ini tidak boleh dirampas atau diambil dari mereka.
  3. Hak asasi kolektif. Hak-hak asasi yang telah disepakati oleh internasionalnya juga harus menjamin masyarakat adat. Namun, hak asasi ini bukan hanya berlaku untuk manusia secara individual melainkan secara kelompok (kelompok masyarakat adat).
  4. Hak budaya. Masyarakat adat sangat melekat dengan budaya. Tarian, dongeng, nyanyian, bahasa, tempat-tempat keramat dan sebagainya yang mencerminkan aktivitas mereka sehari-hari seperti menangkap ikan, bertani dan berburu merupakan kekayaan bukan hanya fisik melainkan kekayaan spiritual dan moral. Oleh karena itu masyarakat menuntut agar haknya untuk melindungi, melestarikan dan mengembangkan budayanya dapat diakui oleh masyarakat dunia. Karena kedekatan masyarakat adat dengan alam, maka melestarikan budaya mereka berarti juga melestarikan keadaan alam.
  5. Hak atas agama dan kepercayaan mereka sendiri yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun. Begitu pula dengan tempat-tempat ibadah, pemujaan, keramat mereka harus dilindungi keberadaannya.
  6. Hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif. Masyarakat adat memiliki kedudukan moral dan hukum yang setara dengan masyarakat lain. Oleh karena itu segala bentuk perlakuan diskriminatif harus dihapuskan.
  7. Hak untuk berpartisipasi aktif dalam proses politik yang menyangkut kepentingan semua kelompok masyarakat. Hal ini sangat penting dalam rangka pembangunan yang berdampak pada lingkungan di sekitar mereka serta bagi kelestarian tradisi budaya dan eksistensi mereka. Hak ini tidak hanya semata-mata perwakilan mereka dalam lembaga formal saja. Namun partisipasi mereka dalam menentukan kebijakan yang secara tidak langsung berdampak pada mereka.
  8. Hak untuk memperoleh ganti rugi atas setiap kegiatan yang menimbulkan kerugian bagi lingkungan hidup dan nilai-nilai sosial, budaya, spiritual dan moral masyarakat adat. Ganti rugi ini harus diatur dalam hukum positif agar masyarakat adat tidak dirugikan secara ekonomis dan agar kekayaan alam beserta nilai yang terkandung didalamnya tidak punah begitu saja.

Dengan disebutkannya hak-hak masyarakat adat tersebut maka diperlukan adanya perlindungan etika masyarakat adat. Karena bagaimanapun juga masyarakat adat memiliki hubungan yang erat dengan alam. Mereka tau bagaimana cara untuk menghormati alam, memperlakukannya sebagai manusia yang bergantung dengan alam, bukan manusia yang memanfaatkan alam. Selain itu masyarakat adat juga memiliki kekayaan budaya, sosial dan spiritual yang perlu dilestarikan untuk menjaga hubungan sesama manusia. Dengan melindungi hak-hak masyarakat adat tersebut berarti kita telah melindungi kearifan lokal masyarakat adat. Dengan begitu kita dapat menghormati alam sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat adat, yang berarti kita telah berhubungan baik dengan alam. Sehingga alampun nantinya dapat memberikan kebaikan untuk manusia. Pembangunan dan modernisasi dapat tetap dilakukan dengan memandang etika lingkungan sebagai pedoman apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan terhadap alam. Pembangunan dan modernisasi dapat tetap berlangsung tanpa mengeksploitasi alam sehingga alam dapat tumbuh dengan baik.

Sumber Review Buku :

A Sonny Keraf. 2005. Etika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

perempuan berkalung sorban

Sinopsis Film Perempuan Berkalung Sorban

Film ini ditayangkan serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada 15 Januari 2009 dan kini sudah tersedia dalam kaset atau dvd yang dapat ditonton setiap saat. Film ini adalah film yang diproduseri oleh Hanung Bramantyo yang merupakan sebuah novel yang ditulis oleh Abidah El Khalieqy yang menceritakan sebuah pengorbanan seorang perempuan, Seorang anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Anissa (Revalina S Temat), seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur yang kolot dan aku. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah Qur’an, Hadist dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang. Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang

Protes yang dilakukan Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Khudori (Oka Antara), paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan ‘dunia’ yang lain bagi Anissa. Diam-diam Anissa menaruh hati kepada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (Joshua Pandelaky), sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo. Secara diam-diam Anissa mendaftarkan kuliah ke Jogja dan diterima tapi Kyai Hanan tidak mengijinkan, dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Anissa merengek dan protes dengan alasan ayahnya. Akhirnya Anissa malah dinikahkan  dengan Samsudin (Reza Rahadian), seorang  anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Anissa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataan Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (Francine Roosenda). Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Anissa seketika runtuh.

Dalam kiprahnya itu, Anissa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai. Namun Annisa masih dalam trauma pernikahan. Tapi Khudori adalah lelaki dewasa yang bisa mengerti kondisi Annisa. Akhirnya keduanya menikah meski sebetulnya pernikahan itu membuat hubungan Annisa dan keluarganya semakin jauh. Oleh Khudori Annisa disarankan untuk pulang. Annisa tidak mau karena dirinya sudah merasa diusir dari rumah itu. ‘Sebenarnya tidak ada yang mengusir kamu. Kamu yang selalu merasa terusir oleh kami.’ Begitu Ibunya selalu bilang kepada Annisa. Bagi Annisa Ibu adalah figure yang lemah. Tidak berdaya dihadapan ayahnya. Ibu bukan seorang yang bisa dijadikan teladan bagi Annisa. Tapi kemudian Annisa sadar bahwa untuk menciptakan lingkungan nyaman, seseorangan harus mengubah dirinya menjadi nyaman. Dan itu yang dilakukan oleh Ibu, yang biasa dipanggil Nyai. Rasa diam ibu, yang dianggap Annisa sikap lemah dan tak berdaya, sebenarnya adalah sikap toleran dan pengertian demi lingkungan stabil yang dia perjuangkan. Akhirnya Annisa pulang dan sujud dihadapan ibunya. Dalam kata maaf itu, Annisa berjanji untuk terus berjuang menjadi yang terbaik. Menjadi muslimah sebagaimana yang Ayah dan Ibunya inginkan.

Annisa dan Khudori dikaruniai seorang anak yang diberi nama mahbub. Aktivitas mereka sangat indah karena hari-hari mereka dihiasi oleh seorang anugrah harta terindah dalam dunia ini. Meskipun indah, kebahagiaan itu tidak berjalan lagi ketika khudhori mengalami sakit-sakitan yang sangat parah, hingga sakitnya itu memanggilnya dari dunia dan bertemu dengan Tuhan-Nya.

Analisis Film

Jika kita melihat film ini, maka terlintas dipikiran bahwa apa yang dilakukan oleh Anissa sama dengan saat R.A. Kartini yang memperjuangkan kebebasan dirinya dan kaum wanita dari ketertindasan dan kekangan dari keluarga. Kartini banyak berbicara tentang nilai-nilai tradisi (khususnya Jawa) yang cenderung membelenggu perempuan, menjadikannya tergantung pada laki-laki, yang menyebabkan perempuan menjadi kaum yang tidak berdaya dan seakan-akan tidak diberi peran yang penting dalam masyarakat. Kultur atau adat istiadat Jawa saat itu seperti Poligami, budaya pingitan terhadap gadis yang secara tidak langsung sangat mengekang gerak perempuan. Dalam masyarakat Jawa, seperti ditempat kita tinggal saat ini, masih terdapat konsep bahwa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Seperti ungkapan suwargo nunut neroko katut, yang berarti bahwa kebahagiaan istri atau penderitaan istri hanya bergantung pada suami adalah contoh bahwa perempuan dianggap tidak penting dalam kehidupan. Di Jawa rumah tangga merupakan pusat dari segalanya, hampir tidak ada gadis Jawa yang tidak menikah. Tidak menikah bagi gadis Jawa merupakan aib bagi keluarga. Namun hal itu berakhir ketika datangnya jaman modern ini. Dimulai dari tidak tahannya anak-anak muda Jawa dengan keadaan saat itu, maka banyak dari mereka untuk pergi menuntut ilmu termasuk perempuan. Hal inilah yang mendorong pemberontakan seorang perempuan untuk terlepas dari kekangan ini, sehingga perempuan saat ini sudah sedikit dapat bernafas lega. Pemerintah juga membantu persamaan hak untuk perempuan melalui gerakan-gerakan wanita yang kini menjadi lembaga-lembaga bantuan hukum dan keluarga yang ada diberbagai kota di Indonesia. Dengan demikian, gerakan wanita adalah salah satu usaha untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat dunia dan di Indonesia khususnya didukung oleh pria dan wanita dari berbagai generasi, oleh organisasi wanita besar dan kecil oleh perguruan tinggi, oleh lembaga pemerintah dan swasta, bahan dalam dunia internasional (Riant Nugroho; 2008). Sejak dahulu seorang wanita memang dilarang untuk lebih maju. Mulai dari bersekolah hingga bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Tidak jauh berbeda dengan film Perempuan Berkalung Sorban tersebut, keluarga Kyai ini masih sangat kolot dengan menganggap bahwa Al-Quran, Hadist dan sebagainya lah yang menjadi acuan paling tepat bahkan buku-buku modern pun menjadi sangat menyimpang. Dalam ajarannya, keluarga ini sangat mengunggulkan laki-laki dan menganggap bahwa perempuan adalah kaum yang lemah yang tidak boleh mengaktualisasikan dirinya. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Anissa ingin memberontak. Karena kekolotan keluarganya, Anissa melakukan pemberontakan dengan keinginannya untuk bebas yaitu bersekolah di Jogja. Namun pemberontakan Anissa malah ditentang Ayahnya hingga akhirnya ia dinikahkan secara paksa oleh Ayahnya dengan Samsudin yang merupakan seorang yang kejam. Selama dalam pernikahan ini Anissa sering mendapatkan perlakuan kasar dari Samsudin. Disini Anissa sangat merasa tertekan bahkan seperti stres hingga ia ingin memberontak. Hingga kemudian ia dapat terlepas dari Samsudin dan bertemu dengan Khudori. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Anissa merupakan perempuan yang memiliki pemikiran yang luas, jiwa yang kuat, sifat yang cerdas yang ingin membebaskan dirinya dari kekolotan keluarganya yang malah justru menjerumuskannya kepada kekangan dan kekejaman Samsudin. Keinginan Anissa yang ingin bebas sangatlah kuat (dalam artian sebagai perempuan yang dapat mengaktualisasikan dirinya). Keinginannya tersebut menggambarkan betapa besarnya cita-cita seorang perempuan untuk menunjukkan bahwa perempuan itu tidak lemah, perempuan itu kuat dan mampu mengatasi persoalan yang berat sekalipun. Tidak seperti anggapan bahwa perempuan itu kaum yang lemah yang semula dibuat-buat dan kini menjadi budaya. Anissa sangat menginspirasi banyak perempuan yang ingin maju dan terbebas dari kekangan. Perjuangannya patut diacungi jempol.

Budaya Patriarki telah membudaya dari dahulu hingga saat ini baik dalam karier ataupun rumah tangga, hingga hal ini dicampuradukkan dengan kodrat perempuan yang mengatakan bahwa perempuan memiliki kodrat sebagai orang yang lemah lembut, peka, penuh kasih sayang dan sebagainya. Namun pandangan akan kodrat tersebut kini disalah artikan yaitu wanita dianggap sebagai wanita penghibur dengan pakaian yang sexy dan sebagainya. Perempuan selalu dihadapkan dengan kekerasan fisik maupun psikis. Perempuan selalu dicari kesalahannya. Negara juga melakukan kekerasan terhadap perempuan. Bukan hanya pada film Perempuan Berkalung Sorban saja, namun di dunia nyata saat inipun terjadi. Banyak sekali hak-hak yang harusnya diperoleh perempuan namun tidak diperolehnya seperti perlindungan, pemberian rasa aman dimanapun perempuan berada bahkan tindak tegas hukum yang memberikan sanksi kepada pelaku kejahatan terhadap perempuan. Selain itu banyaknya aksi pemberdayaan perempuan yang melindungi perempuan, sosialisasi kesetaraan gender, mengikutsertakan perempuan dalam pembangunan dan sebagainya yang belum berlaku dan masih dalam bentuk wacana di negara ini.

Teori yang tepat dalam menganalisis tentang permasalahan diatas adalah teori Peran Institusional yang mengatakan bahwa perbedaan gender berasal dari perbedaan peran yang dimainkan laki-laki dan perempuan dalam berbagai latar institusional. Yang paling menentukan perbedaan ini adalah diyakini sebagai pembagian tugas secara seksual yang mengaitkan peran perempuan sebagai istri, ibu dan pekerja rumah tangga; pada wilayah privat rumah dan keluarga; dan dengan demikian pada serangkaian peristiwa  dan pengalaman yang sangat berbeda dari laki-laki. Peran perempuan sebagai ibu dan istri dalam memproduksi dan mereproduksi kepribadian dan kebudayaan dianalisis oleh Berger dan Berger (1983), J. Bernard (1981, 1872/1982), Chodorow (1978), Risman dan Ferree (1995), dan M Johnson (1989) (Ritzer; 2008). Masyarakat kita sejak dulu hingga sekarang sudah terdoktrin akan hal tersebut diatas yang menyatakan bahwa perempuan sudah kodratnya untuk bekerja dirumah mengurusi keluarga dan sebagainya. Hingga saat ini hal tersebut berubah menjadi anggapan bahwa perempuan itu lemah, perlu dilindungi, tergantung kepada laki-laki dan tidak dapat mengaktualisasikan dirinya. Sedangkan menurut teori Peran Institusional diatas menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda karena perannya, bukan karena kemampuannya dalam partisipasi pembangunan misalnya. Kembali lagi pada masyarakat kita yang sudah terdoktrin oleh pembagian peran tersebut diatas, kita tidak memandang perempuan itu dari segi pemikirannya, kemampuannya atau kecerdasannya, namun kita menilai perempuan sebagai pengurus rumah tangga dan keluarga saja.

Yang dibutuhkan oleh perempuan saat ini adalah adanya kesadaran dari masing-masing individu baik laki-laki maupun perempuan tentang penghapusan budaya patriarki yang nampaknya telah membudaya hingga saat ini. Namun tentunya penghapusan ini tanpa mengurangi rasa hormat perempuan kepada laki-laki. Hal ini agar dapat menunjukkan bahwa perempuan juga setara dengan laki-laki. Perempuan dapat bersekolah dan mewujudkan cita-citanya, berpartisipasi dalam pembangunan dan sebagainya. Pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah rasanya akan menjadi sia-sia saja jika tidak diikuti oleh adanya kesadaran masing-masing individu. Selain itu pemerintah bukan hanya menyediakan lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan saja, namun pemerintah juga ikut menggalakkan adanya kesetaraan gender dalam bentuk perlindungan, rasa aman terhadap perempuan, pemenuhan hak perempuan dan sebagainya. Meskipun ada lembaga yang memberdayakan perempuan, namun kenyataannya sekarang masih banyak kasus kriminal terhadap perempuan yang terkadang hukuman bagi pelaku tidak sesuai dengan perbuatannya. Lalu dimana dukungan pemerintah dalam hal ini ?

Sumber Referensi

Nugroho Riant, Dr. 2008. Gender dan Strategi Pengarus-Utamaannya di Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

George Ritzer & Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi. Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Urbanisasi

DEFINISI URBANISASI YANG BERANEKA

Urbanisasi secara harafiah berarti pengkotaan, yaitu proses menjadi kota; jadi logisnya, yang mengalami proses pengkotaan itu justru daerah pemukiman yang bukan kota. Pengkotaan berarti meningkatnya bagian penduduknya yang bertempat tinggal di kota. Kemudian kota-kota itu sendiri yang tumbuh meluas. Pinggiran-pinggiran yang semula pedesaan berubah menjadi kota. Ada pun dalam bahasa sehari-hari, urbanisasi diasosiasikan dengan arus penduduk desa yang masuk kota.

Menurut Grunfeld, terdapat dua jenis urbanisasi :

–   Pengkotaan Fisik

Perkembangan kota dalam arti luas areal, jumlah dan kepadatan penduduknya, pembangunan gedung-gedungnya (arah horisontal atau vertikal), variasi tata guna lahannya yang non-agraris.

–   Pengkotaan Mental

Perkembangan orientasi nilai-nilai dan kebiasan hidup meniru apa yang terdapat di kota-kota besar.

Adanya macam-macam definisi dari urbanisasi disebabkan pula oleh kenyataan bahwa para ahli tak sepaham mengenai apa yang disebut dengan kota. Dari situ lalu muncul definisi urbanisasi sebagaimana dikumpulkan oleh geograf De Bruijne :

  1. Pertumbuhan persentase penduduk yang bertempat tinggal di perkotaan, baik secara mondial, nasional, maupun regional.
  2. Berpindahnya penduduk ke kota-kota dari pedesaan.
  3. Bertambahnya penduduk bermatapencaharian non-agraris di pedesaan.
  4. Tumbuhnya suatu pemukiman menjadi kota.
  5. Meluasnya struktur artefaktial-morfologis suatu kota di kawasan sekelilingnya.
  6. Meluasnya pengaruh suasana ekonomi kota ke pedesaan.
  7. Meluasnya pengaruh suasana sosial, psikologis, dan kultural kota ke pedesaan; ringkasnya, meluasnya nilai-nilai dan norma-norma kekotaan ke kawasan luarnya.

Urbanisasi Tersebar Sebagai Jalan Keluar

Dalam dekade terakhir ini, kota metropolis Jakarta terpaksa harus merelakan lenyapnya sekitar 30.000 ha tanah pertanian atau perkebunan yang amat berharga, karena ditelan oleh ‘pembangunan’; padahal sebelumnya tanah tersebut merupakan penghasil buah-buahan segar bagi ibukota. Perubahan morfologis seperti itu pun melanda banyak bagian kota; perkampungan berisi rumah kediaman penduduk dijadikan kompleks perkantoran atau pusat perbelanjaan, tanah lapang berumput didesak oleh gedung-gedung komersial atau diserbu oleh para penghuni liar.

Di negara-negara sedang berkembang proses urbanisasi bukan sekedar proses masuknya manusia pedesaan ke kota-kota, tetapi juga proses transformasi manusia tradisional agraris menjadi warga yang bersifat urban dan modern. Percepatan urbanisasi menumbuhkan proletariat yang besar di kota yang dengan keterampilan yang rendah dan terbatas hanya dapat menikmati sebagian pasaran tenaga kerja. Karena itu mereka sering tersisihkan dari keuntungan materiil yang dinikmati masyarakat lainnya. Lalu terciptalah jurang yang menganga lebar antara para peserta sektor yang makin maju dan mereka yang tertinggal. Akibatnya muncul dimana-mana pemukiman spontan yang serba kumuh.

Para migran dari pedesaan itu jadinya tidak terubanisasi. Mereka itu justru mendesakkan lingkungannya yang baru ke dalam kota. Pemukiman kumuh tersebut selain dipandang merusak keindahan kota juga menjadi pusat pengangguran dan sumber penyakit, kejahatan, pelacuran, serta penyakit sosial lainnya. Keadaan yang runyam ini sudah semestinya tak mampu memberi kesempatan bagi proses transformasi (alih ragam) pada para migran berasal dari pedesaan ke dalam tata kehidupan urban yang dapat berlangsung secara wajar.

Danisworo berpendapat, pertumbuhan kota-kota besar yang liar masih dapat dikendalikan dengan merencanakan pengembangan kota ke luar. Di situ wilayah haruslah dijadikan sentral, artinya mengandung mekanisme yang mampu mengkoordinasikan jenis pembangunan di dalam kota utama dan di wilayah sekitarnya, terutama di pusat-pusat kegiatan di situ yang berpotensi untuk dikembangkan. Itulah yang disebut urbanisasi tersebar.

Perlu dibentuk pusat-pusat kegiatan baru agak jauh di luar kota; kota-kota baru di luar jauh dari kota-kota utama harus memiliki basis ekonomi sendiri yang dapat menarik tenaga menengah dari kota utama, terutama tenaga kerja golongan rendah, dari kota ataupun dari pedesaan. Pemukiman baru atau kota-kota baru ini akan dapat berfungsi pula sebagai wadah transisi bagi proses asimilasi warga yang wajar, dari kehidupan tradisional agraris ke kehidupan urban yang canggih. Bersama itu, pusat-pusat kegiatan baru di situ akan mampu berfungsi menjadi pusat penyebaran modernisasi ke wilayah pedesaan yang lebih luas.

Dengan cara itu urbanisasi bukan sekedar mobilitas fisik atau geografis, tetapi mobilitas mental atau psikis, yang didalamnya terkandung proses budaya. Bersama itu terjadi urbanisasi dalam arti proses penyebaran geografis dari nilai-nilai, perilaku, sikap, lembaga, dan organisasi yang sifatnya urban. Singkatnya urbanisasi dapat dipandnag sebagai proses modernisasi, suatu proses perubahan sosial yang berlangsung di dalam sistem apatial yang terorganisasikan.

TIMBULNYA URBANISASI

Dari Gua ke Perkampungan

Berlawanan dengan kepercayaan umum, urbanisme tidak bermula dari manusia meninggalkan gua. Urbanisme mungkin telah dimuai dari manusia di dalam gua itu sendiri untuk mencari perlindungan atau untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Menurut Lewis Mumford meskipun perkampungan-perkampungan dimulai sejak masa Neolitik namun kebiasaan untuk berkumpul didalam gua atau mengadakan upacara yang bersifat magis secara bersama-sama agaknya telah dimulai sejak periode awal dan orang yang tinggal di gua-gua dan dinding batu yang dilubangi telah bertahan hidup dalam daerah yang telah terpencar saat ini.pola garis besar kota dapat ditemui ditempat-tempat berkumpul seperti diatas.

Tempat-tempat tinggal ini kemudian menjadi sebuah perkampungan yang merupakan hasil sampingan dari perkembangan pertanian dari daerah yang persediaan airnya cukup dan tanahnya subur. Mumford berpendapat bahwa daerah kota yang keudian terbentuk dan daerah desa pedalamannya merupakan suatu kesatuan jalinan yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan binatang yang pada gilirannya mendorng produksi pertanian. Banyak perkampungan awal yang memberikan perlindungan pada manusia dan binatang yang ada didalamnya, namun jika tidak terdapat perlindungan tersebut maka haruslah membuat perlindungan sendiri. Perlindungan tersebut seperti benteng, berikade, selokan dan tiang-tiang pancang.

Manusia merupakan makhluk yang selalu mengelompok. Mereka berkumpul untuk mencari teman dan membuat hiburan bersama. Perkampungan juga merupakan suatu tempat untuk berkumpul dan melakukan pemujaan kepada Sang Pencipta, suatu tempat untuk berkumpul dan pusat kegiatan perdagangan. Dengan demikian padatlah jumlah penduduk dan timbullah urbanisasi.

Dengan banyaknya fungsi dan semakin tumbuhnya pemukiman, maka pelestarian tanah-tanah subur sedikit terabaikan. Banyak sekali penggunaan pupuk sebagai makanan tanaman yang justru akan merusak unsur tanah tersebut. Namun kini pelestarian terhadap tanah sudah mulai di galakkan kembali. Pada masyarakat Indian, mereka menolak adanya pembangunan perkotaan. Mereka lebih menyukai perlindungan untuk tanah dan kebudayaan meskipun mereka menyadari bahwa kemajuan pesat secara ekonomis dari urbanisasi. Kemudian, dibandingkan dengan perkampungan, daerah perkotaan lebih banyak dan berkembang pertanian dan peternakan dibandingkan masa sebelumnya. Dengan semakin banyaknya pertanian dan peternakan serta pengolahan dari keduanya, maka timbullah kesempatan kerja yang membutuhkan tenaga kerja. Dengan demikian tumbuhlah pedesaan menjadi perkotaan yang ramai.

Meskipun telah banyak pedesaan yang berkembang, namun sebagian negara berkembang di dunia masih banyak yang hidup primitif dalam artian ekonomi yang sederhana dan standart hidup rendah. Mereka merampas semua kekayaan alam yang ada di tanah tandusnya untuk memerangi kelaparan.

Wajah Kota

Istilah kota mengandung arti suatu konsentrasi pendudu dalam suatu wilayah geografis tertentu yang menghidupi dirinya sendiri secara relatif permanen dari kegiatan ekonomi yang ada di wilayah tersebut. Kota bisa menjadi pusat pendidikan, pemerintahan, perdagangan, industri atau mencakup semua kegiatan tersebut. Keanekaragaman tersebut telah menarik penduduk pedesaan untuk tinggal di wilayah perkotaan. Dengan demikian dapat terlihat jika kota cenderung  menjadi besar jika perekonomiannya luas. Sedangkan kota kecil menjadi satelit-satelit yang bergantung pada perekonomian kota besar. Kota menjadi suatu tempat yang menyediakan segala kebutuhan. Kota sebagai penyalur barang yang dibutuhkan. Dikota terdapat segala jenis alat transportasi.

Kota memiliki kekurangandalam pelayanan terhadap penduduknya. Kota bisa menjadi terlalu padat memuat terlalu banyak rumah yang tak layak,pusat pengangguran dan mempunyai pemerintahan yang korup. Pajak tinggi yang tidak sesuai dengan pelayanannnya. Sekalipun demikian, kota akan tetap ada. Dan tugas bagi pemerintah maupun swasta adalah mencari unsur penting dalam sistem sosial kita ini agar lebih baik, efisien dan demikian membuat kota lebihnyamanuntuk ditinggali.

LOKASI DAN JENIS URBANISASI

Pengaruh Geografi

Bahaya kebakaran, banjir, keadaan iklim yang ekstrem, adanya emungkinan gempa buni, gunung meletus serta terbatasnya suber daya alam dapat mempengaruhi kita untuk menempati tempat tinggalatau pindah ke suatu tempat. Hasil penelitian menyatakan bahwa daerah perkotaan tida berada di daerah yang terjal seperti pegunungan maupun daerah pesisir pantai. Hampir semua kota besar di dunia ini terletak dekat di jalan air besar sebagai terminal transportasi sebagai persimpangan jaringan transportasi internal. Seperti yang terdapat pada New York, Seattle, Bostn, Rio de Jeneiro dan Chcago.

Dampak pada Lingkungan Alam

Perkembangan kota menimbulkan banyak perubahan dalam lingkungan di sekitarnya. Bangunan-bangunan pencakar langit menempati tanah kosong, pengerasan untuk aspal di jalan raya, asap pabrik yang dapat merusak iklim. Kadang perubahan ini tidak diperkirakan secara dramatis, yaitu terjadi sangat cepat. Petualangan baru-baru ini terjadi di Belantara Alaska yang mempunyai dampak panjang pada manusia dan hewan. Dimana kereta yang ditarik oleh anjing kini telah tergantikan oleh kendaraan mesin akibat budaya selatan. Jaringan jalan yang dahulunya setapak dan tidak mengganggu lingkungan, kini telah diperluas. Hewan-hewan besar bisa terganggu dengan adanya pipa-pipa minyak raksasa. Masa depan menginginkan manusia untuk tidak tinggal di wilayah perkotaan agar tidak menghadapi konsekuensi dari perubahan teknologi. Berbagai pencemaran udara maupun air, adanya hujan buatan iodium yang dapat merusak bahkan mempengaruhi peri kehidupan diplanet kita.

Organisasi Sosial dan Politik

Perkampungan telah memberikan sesuatu yang baru dalam kehidupan. Disana dituntut adanya  tanggung jawab dan kerjasama timbal balik. Sebagai hasilnya, banyaklah bermunculan organisasi sosial dan politik. Manusia tidak mudah menyesuaikan diri dengan disiplin yang ada dalam masyarakat. Seperti kepala suku yang memiliki banyak persaingan dengan kepala suku lainnya untuk menguasai sehingga terjadinya suatu peperangan yang dikuasai oleh kepala suku yang menang. Beberapa waktu yang berlalu terbentulah suatu kekaisaran, raja atau kaisar. Yang membedakan kota awal dengan desa primitif adalah tingginya derajat organisasi sosial politiknya. Struktur sosial yang canggih memungkinkan orang tinggal bersama secara damai. Sebagai hasil dari struktur sosial yang maju, terjadilah perkembangan secara nyata. Sejumlah bangunan-bangunan seperti istana dan katedral dikuasai oleh kelompok-kelompok yang berkuasa dan menjadi kebanggaan umum. Sedangakan sebagian besar penduduknya tinggal digubuk-gubuk yang terbuat dari tanah liat.

Evolusi Bentuk Fisik

Bentuk fisik kota pada saat itu merupakan hasil dari penindasan terhadap masa tersebut. Dimana yang berkuasa dan mendominnasilah yang menentukan hasil tata kota tersebut. Seperti adanya peperangan, penghancuran, penggunaan alat-alat perang akan membentuk pola suatu kota yaitu memiliki benteng, bangunan yang tinggi dan megah dan sebagainya. Ada dua macam kota yaitu kota bertembok dan kota terbuka dengan masing-masing memiliki pola yang berbeda-beda. Keadaan kota tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat pada saat itu yaitu dari tata cara sosial, ekonomi, politik. Sedikit otayang kebudayaannya tinggi merupakan suatu rencana. Kota-kota yang berkembang merupakan sebuah perkembangan-pertumbuhan yang sudah diatur. Dengan surut dan berkembangnya kebudayaan, maka pola-pola tak teratur dan geometris dijalin satu sama lain. Pedesaan yang  tumbuh menjadi kota dengan keunggulan geografis, ekonomis maupun sosialnya. Kota-kota telah tubuh dan berkembang sesuai dengan berjalannya waktu.

Jenis Daerah Perkotaan

  • Persimpangan jalan. Bentuk ini adalah yang paling sederhana meluas dan mengecil dari pergerakan pedagang dari satu tempat ke tempat lain. Tempat ini adalah tempat istirahat, makan atau bertukar barang dagangan serta gagasan. Lokasinya bisa di terminal transportasi seperti pelabuhan laut atau sungai.
  • Daerah pertanian utama. Lokasi ini merupakan kawasan pelayanan untuk kegiatan pedesaan. Bahan-bahan akan kebutuhan pertanian dapat diperoleh disini bahkan hasil pertanian dapat diolah disini hingga pada akhirnya ke tangan konsumen.
  • Kota perdagangan. Kegiatan usaha, pertukaran dan transaksi terjadi disini. Berbagai macam kebutuhan konsumen tersedia disini.
  • Kota industri. Ditempat ini barang mentah atau barang setengah jadi diolah menjadi barang jadi, untuk kemudian diseluruh dunia.
  • Kota transportasi. Kota seperti ini terletak ditengah jaringan transportasi, dimana barang dibawa dari tempat yang jauh untuk didistribusikan di daerah pelosok lainnya.
  • Kota rekreasi.  Karena iklim atau aspek istimewa lainnya, kota ini menarik sejumlah orang untuk maksud yang tidak berkaitan dengan pekerjaan atau usaha. Contoh, pusat perjudian, tempat peritirahatan, pusat olahraga, atau daerah pemandangan indah.
  • Kota pendidikan. Suatu lembaga atau kelompok lembaga pendidikan besar yang merupakan fungsi utama dikota semacam ini. Contohnya kota Claremont, California, New Jersey dan sebagainya.
  • Lingkungan pertambangan. Disini dasar ekonominya adalah mengambil bahan mineral. Seperti kota-kota didaerah penambangan batu bara.
  • Lingkungan pensiunan. Tempat-tempat semacam ini merupakan lingkungan yang pendapatannya berasal dari gaji dan pensiunan.
  • Pusat pemerintahan. Pusat kegiatan pemerintahan, dimana pemberi pekerjaan utamanya adalah pemerintah.
  • Kota (regional) Kombinasi. Beberapa kota mempunyai semua atau sebagian dari fungsi-fungsi diatas. Karena itu kota-kota semacam ini lebih besar dan lebih kompleks dari masing-masing jenis lingkungan diatas.

FAKTOR-FAKTOR UTAMA TERJADINYA URBANISASI

Adapun beberapa faktor pendorong urbanisasi. Charles Whynne-Hammond dalam bukunya Elements of Human Geography (1979) menyebutkan sebagai berikut :

  1. 1. Kemajuan di bidang pertanian

Adanya mekanisasi di bidang pertanian mendorong dua hal : (1) tersedotnya sebagian tenaga kerja agraris ke kota untuk menjadi buruh industri ; (2) bertambahnya hasil pertanian untuk menjamin kebutuhan penduduk yang hidupnya dari pertanian.

  1. 2. Industrialisasi

Karena industri-industri bergantung kepada bahan mentah dan sumber tenaga (misalnya batu bara), maka pabrik-pabriknya didirikan di lokasi di sekitarnya; itu demi murahnya pengelolaan. Sekaligus diperlukan tenaga buruh yang banyak; mereka berpindah dan bekerja di situ; akhirnya lahir kota yang baru.

  1. 3. Potensi pasaran

Berkembangnya industri ringan melahirkan kota-kota yang menawarkan diri sebagai pasaran hasil diteruskan kepada kawasan pedesaan. Kota-kota perdagangan tersebut lalu menarik pekerja-pekerja baru dari pedesaan dan dengan begitu kota bertambah besar.

  1. 4. Peningkatan kegiatan pelayanan

Industri tersier dan kuarter tumbuh dan meningkatkan perdagangan, taraf hidup, dan memacu munculnya organisasi ekonomi dan sosial. Berbagai jenis jasa tumbuh di perkotaan : hiburan, catering, tata usaha perkantoran, dsb.

  1. 5. Kemajuan transportasi

Bersama kemajuan komunikasi, ini mendorong majunya mobilitas penduduk, khususnya dari pedesaan ke kota-kota di dekatnya.

  1. 6. Tarikan sosial dan kultural

Di kota banyak hal yang menarik, seperti : bioskop, museum, dan tempat rekreasi.

  1. 7. Kemajuan pendidikan

Tak hanya sekolah-sekolah yang menarik kaum muda untuk pindah ke kota. Juga media komunikasi massal yang berpusat di kota seperti surat kabar dan siaran radio makin menyadarkan masyarakat pedesaan akan pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk sukses dalam usaha.

  1. 8. Pertumbuhan penduduk alami

Di samping penduduk kota bertambah oleh masuknya urbanisasi, angka kelahiran di kota lebih tinggi di banding pedesaan ; ini akibat kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

TEORI

Stuktur-struktur sosial dan politik perkotaan serta urbanisasi di Asia Tenggara telah maju pesat  yang mengacu dari Negara-negara Barat.  Salaha satu teori yang terkenal pada saat itu adalah teori ekologi perkotaan dengan nama mazhab Chicago.  Nama ini di ambil dari nama sebuah kota yang tumbuh pesat dan menyangkut masalah-masalah yang dulunya Nampak kacau itu dalam waktu singkat menimbulkan arus-arus migrasi dari berbagai lingkungan etnis dan bagaimana dai pertumbuhan yang praktis tidak terkendali timbul. Dari sinilah berbagai sifat heterogenitas timbul dari golongan etnis, diferensiasi pekerja, kriminaitas dan bentuk ekonomi.

Kota dibagi atas bentuk  wilayah alami dan wilayah social. Dimana keduanya saling mempengaruhi. Wilayah alami adalah keadaan kota yang sebenaranya namun karena kedatangan masyarakat ke kota, keadaanya kota yang alami berubah menjadi keadan kota yang social. Semboyan dari esai Wirth “ urban as a way of life” urbanisme sebagai suatu cara hidup. Dimana pemusatan penduduk di dalam kota diangap sebagai independen variable yang menentukan kemungkinan-kemungkinan hidup individu-individu, serta interaksi antar individu. Burgess secara singkat  didni menyususn tesis, bahwa wilayah-wilayah social dengan cirri-ciri social dan ekonomi kota tersususun meneyerupai bentuk lingkaran bertingkat yang mengelilingi pusat. Dan variable-variabel untuk mengukur cirri secara sistematik ini dengan struktur harga tanah, semakin dekat struktur tanah dari pusat kota semakin mahal harganya,  semakin jauh dari pusat kota semakin murah.

Stanislaw Wellisz, seorang sarjana ekonomi social dari Univesitas Columbia dan penasehat pembangunan, ia menyatakan : “ Urbanisasi biasanya erat berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi luasnya urbanisasi dengan GNP perkapita sehingga lajunya proses urbanisasi di Negara-negara sedang berkembang khusunya Asia, hatus disambut dengan gembira sebagai tanda perkembangan dan dorongan untuk mencapai kemajuan yang lebih pesat di masa mendatang. Banyak para ahli memandang kota-kota  sebagai benda-beda parasit yang menguras daerah pedalaman dan rakyat dan sumber-sumber alamnya, menjurus wilayah perkotaan yang semakin tidak sehat tetapi tingkat urbanisasi yang terlampaui rendah dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan kota dapat memperlambat laju ekonomi dan menimbulkan kemunduran lingkungan kota yang membahayakan.

Dalam banyak studi dinamika, urbanisasi biasanya urbanisasi diterangkan dengan migrasi yang ditentukan oleh “factor-faktor dorong dan tarik” (push and pull factors). Jika factor-faktor pendorong dihubungkan dengan perubahan-perubahan ekonomi pedesaan, maka factor-faktor tarik dihubungkan dengan aspek-aspek social-psikologis pendatang dan pada umumnya dilukiskan seagai keinginan keras untuk mengikuti kehidupan kota. Kecuali itu secara impilist diteangkan bahwa migran dating untuk mencari pekerjaan serta mencari kemungkinan-kemungkinan kenaikan status social.

Kota merupakan bagian dari bentukan (formation) masyarakat belum berkembang dan karenanya kota-kota di Malaysia, Indonesia atau Thailand dalam keadaanya yang sekarang tidak dapat dipersamakan dengan metropol-metropol di negara-negarA Indonesia. Sebuah kota adalah suatu pemusatan penduduk didalam wilayah yang sempit.

KONFLIK

Urbanisasi dan Konflik – konflik di Kota

Urbanisasi merupakan salah satu proses yang tercepat diantara perubahan – perubahan sosial di seluruh dunia. Pada tahun 19658 Daniel Lerner masih dapat menyatakan, bahwa urbanisasi merupakan prakondisi untuk modernisasidan pembangunan : “Adalah perpindahan penduduk dari daerah pedalaman ke pusat – pusat kota yang menstimulasi kebutuhan dan menyediakan syarat – syarat yang dibutuhkan untuk “tinggal landas” ke arah partisipasi yang lebih meluas. Kota – kota menghasilkan alat – alat mesin untuk modernisasi. Saat ini kota – kota tidak lagi dipandang sebagai pusat – pusat perubahan dan kemajuan, tetapi sebagai daerah – daerah krisis. Urbanisasi pertama – tama merujuk pada keadaan persentase penduduk yang tinggal di daerah perotaan dalam suatu Negara. Kedua, urbanisasi merujuk pada suatu proses, yaitu peningkatan jumlah penduduk kota. Meskipun jumlah penduduk kota mungkin meledak, keseimbangan jumlah penduduk desa – kota mungkin hanya akan bergeser lambat.

Seringkali terluput dari perhatian kita, bahwa kebanyakan pertumbuhan kota hingga sekarang berasal dari pertambahan penduduk secara alami. Meskipun banyak terdapat perpindahan dari desa ke kota, namun pada umumnya belum begitu berlebihan. Urbanisasi merupakan gejala kompleks dan statistik mungkin membaurkan persoalannya bila tidak dipergunakan dengan sangat hati – hati. Langkah – langkah proses urbanisasi berjalan dengan sangat lambat, sehingga kita harus siap menghadapi suatu peningkatan masalah perkotaan yang jauh lebih cepat dalam masa depan yang yang dekat ini. Meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi meliputi daerah ini, atau, justru karena perkembangan ekonomi, krisis perkotaan masih akan terjadi. Faktor – faktor pendorong lebih penting terhadap migrasi dari desa ke kota begitu industrialisasi meningkat lambat dan relatif tak banyak orang yang dapat diserap ke wilayah – wilayah perkotaan melalui tawaran – tawaran pekerjaan.

Struktur Sosial yang Berubah dari kota – kota Asia Tenggara

Dalam proses urbanisasi Asia Tenggara ini, perubahan sosial benar – benar terjadi, namun tidak secara luar biasa jika dibandingkan dengan wilayah – wilayah dunia yang lain. Meskipun kota – kota berkembang, struktur pendudukannya tidak berubah banyak. Kota – kota di Asia Tenggara sedang mengalami perubahan besar dalam struktur sosialnya. Meskipun struktur – struktur tradisional akan masih bertahan untuk waktu yang cukup lama, suatu pengukuran struktur dan ekologis kembali secara mendasar agaknya sedang berjalan.

Struktur Kota Kolonial

Sistem pemisahan etnis dikombinasikan dengan kekhususan pemukiman, baik diantara maupun di dalam kelompok – kelompok etnis, Meskipun ada pemusatan orang – orang yang berstatus sosial tinggi dan berstatus sosial rendah dalam masing – masing kelompok, namun tidak pernah ada percampuran menyeluruh antara suku – suku bangsa dan kelas sosial.

Perluasan kota ke wilayah – wilayah baru sering tersendat oleh wilayah pedalaman yang telah berpenduduk padat, atau oleh batas – batas alami. Dengan demikian, peledakan penduduk mungkin lebih baik diberi istilah “transplosi” dalam konteks perkotaan.Transplosi perkotaan berarti suatu perluasan mendadak dari masyarakat kota. Walaupun masyarakat kota dahulu dibagi dalam kotak – kotak rapat oleh struktur sosial ganda (plural), batas – batas interaksi antara kelompok – kelompok etnis telah memudar akibat tempat tinggal yang `berdekatan.

girl on fire

She’s just a girl, and she’s on fire

Hotter than a fantasy, like a highway longer

She’s living in a world, and it’s on fire

Feeling the catastrophe, but she knows she can fly away

Oh, she got both feet on the ground

And she’s burning it downOh, she got her head in the clouds

And she’s not backing down

This girl is on fireThis girl is on fire

She’s walking on fireThis girl is on fire

Looks like a girl, but she’s a flame

So bright, she can burn your eyes

Better look the other way

You can try but you’ll never forget her name

She’s on top of the world

Hottest of the hottest girls say

Oh, we got our feet on the ground

And we’re burning it down

Oh, got our head in the clouds

And we’re not coming down

This girl is on fire

This girl is on fire

She’s walking on fire

This girl is on fire

Everybody stands, as she goes by

Cause they can see the flame that’s in her eyes

Watch her when she’s lighting up the night

Nobody knows that she’s a lonely girl

And it’s a lonely world

But she gon ‘let it burn, baby, burn, baby
This girl is on fire This girl is on fire She’s walking on fire This girl is on fire
Oh, oh, oh …
She’s just a girl, and she’s on fire

one direction

You’re insecure
Don’t know what for
You’re turning heads when you walk through the door
Don’t need make up
To cover up
Being the way that you are is enough

Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
But that’s what makes you beautiful

So c-come on
You got it wrong
To prove I’m right I put it in a song
I don’t why
You’re being shy
And turn away when I look into your eyes

Everyone else in the room can see it
Everyone else but you

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
But that’s what makes you beautiful

[Bridge]
Nana Nana Nana Nana
Nana Nana Nana Nana
Nana Nana Nana Nana

Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful

[Chorus]
Baby you light up my world like nobody else
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
But you when smile at the ground it ain’t hard to tell
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
If only you saw what I can see
You’ll understand why I want you so desperately
Right now I’m looking at you and I can’t believe
You don’t know
You don’t know you’re beautiful
Oh oh
But that’s what makes you beautiful

Koperasi sebagai sistem ekonomi kerakyatan

Disusun oleh:

RIZKY RACHMAWATI

D.0310058

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA


A.  JUDUL

Koperasi sebagai Sistem Ekonomi Kerakyatan

  1. PENDAHULUAN

Dalam kenyataan, rakyat Indonesia dari dulu hingga sekarang merupakan rakyat yang mampu berproduksi, tetapi dalam kenyataan pula hanya sebagian kecil saja yang mampu mengembangkan produksinya. Sedangkan yang sulit mengembangkan produksinya tetap hidup dibawah garis kemiskinan. Hal ini dikarenakan modal yang dimiliki sangat terbatas, usahanya hanya digunakan untuk menanggulangi kesulitan hidup keluarganya saja (Pandji Anoraga; 1995). Negara Indonesia merupakan suatu negara demokrasi, yang semua itu ditunjukan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat 1,  menjelaskan mengenai dasar apa yang cocok dan terbaik untuk pola perekonomian negara Indonesia, yang berbunyi : “Perekomomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”. Bentuk badan usaha tersebut yang paling sesuai tidak lain adalah Koperasi.  Koperasi dan demokrasi bersifat saling menunjang. Koperasi mempertebal rasa tanggung jawab dalam kehidupan demokrasi dan demokrasi yang baik akan berpengaruh terhadap kehidupan koperasi yang lebih baik juga. Koperasi tersebut merupakan wadah demokrasi ekonomi dan sosial, dan merupakan unit usaha milik bersama para anggota, pengurus, maupun pengelola.

Ditinjau dari segi pendirian koperasi, koperasi bukan merupakan konsentrasi permodalan. Sehingga tugas yang dilakukan tidak mungkin dalam bidang perdagangan. Namun setelah berkembang dan kondisi keuangan mengizinkan, koperasi dapat melakukan semua jalur perekonomian. Dalam susunan kepengurusan koperasi, dapat dilihat bahwa staf pengurus telah mencakup seluruh aparat atau personal eksploitasi perekonomian, hanya lebih diperkecil dari Perusahaan Komanditer. Sebagai contoh dalam koperasi terdapat ketua dan wakil ketua sedangan dalam perusahaan terdapat direktur dan wakil direktur (T. Soeyanto; 1981). Di dalam menjalankan usahanya, koperasi sangat mengutamakan kebutuhan dari anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Bila koperasi ini dapat terus berkembang dan semakin maju, maka tidak lain dan tidak mungkin perekonomian kerakyatan yang dilaksanakan akan memperbaiki perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Semoga koperasi di Indonesia dapat terus maju dan berkembang dan dapat bersaing dan sejajar dengan perusahaan-perusahaan besar agar kesejahteraan rakyat dapat terjamin.

  1. PERUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimanakah sistem perekonomian di Indonesia?
  3. Apa sajakah pengertian, fungsi dan tujuan koperasi?
  4. Apakah yang dimaksud dengan Koperasi sebagai Soko Guru perekonomian?

D.  PEMECAHAN MASALAH

  1. Bagaimanakah sistem perekonomian di Indonesia?

Tata perekonomian yang dianut dan diterapkan oleh negara Indonesia adalah ekonomi terpimpin dengan memiliki dasar perekonomian sendiri, yaitu Ekonomi Terpimpin ala Pancasila atau Ekonomi Terpimpin ala Indonesia atau Ekononomi Sosial ala Indonesia. Dari ketiga nama tersebut adalah suatu corak perekonomian Indonesia yang berdasar kepada UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yaitu terwujudnya suatu wadah yang berkewajiban mengatur ekonomi negara Indonesia yang berwujud Koperasi. Perekonomian bangsa Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan yang berarti pembentukan koperasi yang bertugas sebagai badan pemerataan untuk memenuhi keperluan hidup masyarakat Indonesia. Dimana sumber-sumber alam yang merupakan keperluan hidup masyarakat dikuasai oleh negara untuk kesejahteraan rakyat seluas-luasnya serta cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Disini dapat terlihat jelas bahwa kekayaan alam yang seluruhnya dikuasai oleh negara tidak memberi kesempatan untuk sekelompok kecil masyarakat saja namun untuk seluruh masyarakat Indonesia untuk mencapai suatu kesejahteraan hidup. Pola perekonomian sosial ala Indonesia ini disesuaikan dengan adat istiadat, alam dan kebudayaan Bangsa Indonesia.

Koperasi merupakan salah satu alat untuk melaksanakan ekonomi terpimpin di negara Indonesia. Hal ini tercermin dengan dibuatnya peraturan-peraturan, perundang-undangan koperasi sejak persiapan kemerdekaan dulu hingga sekarang, namun pola yang tepat hingga saat ini belum juga ditemukan. Sesungguhnya pergerakan koperasi sudah ada sejak tahun 1898 yang dipelopori oleh seorang patih (wakil bupati Purwokerto) Raden Wiriatmaja. Dimana pada saat itu sudah mulai tampak adanya suatu pemerasan-pemerasan terhadap rakyat miskin dan kesengsaraan masyarakat bangsa Indonesia. Namun usaha yang dilakukan belum mencapai suatu keberhasilan dikarenakan beratnya tindasan dari penjajah. Dari situlah muncul perasaan dari masyarakat Indonesia betapa pentingnya pertumbuhan koperasi di negara  ini untuk mengangkat derajat hidup bangsanya. Perekonomian Indonesia harus disusun secara kooperatif, dimana dengan sendirinya merupakan suatu kewajiban pemerintah untuk dapat memasyarakatkan koperasi agar masyarakat benar-benar memahami bahkan menjiwai akan makna dan pentingnya koperasi itu sendiri. Sesungguhnya bangsa Indonesia harus meyakini atas kebenaran pasal demi pasal, ayat demi ayat dalam UUD 1945, dengan keyakinan tersebut maka sesungguhnya dalam bekerja akan bersungguh-sungguh sehingga menciptakan suatu  hasil yang maksimal.

  1. Pengertian, Fungsi dan Tujuan Koperasi

Menurut Undang-undang Nomor 25 tahun 1992, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiataannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi berasal dari perkataan co dan operation, yang mengandung arti bekerja sama untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu koperasi adalah suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota; dengan bekerjasama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya (Arifinal Chaniago, 1984 dalam Pandji Anoraga, 1995). Pada koperasi, keluar masuknya anggota adalah bebas. Keistimewaannya sebagai perkumpulan terletak pada tujuan pokoknya, yaitu bahwa koperasi mengutamakan penyelenggaraan kepentingan anggota dalam kebutuhan sehari-hari.

Sedangkan pengertian koperasi menurut Undang-undang Koperasi no 12 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Dalam pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “rakyat” adalah orang-orang dengan kondisi ekonomi yang relatif lemah, yang perlu menghimpun tenaganya agar menjadi kuat. Koperasi memiliki watak sosial berarti bahwa dasar koperasi adalah kerja sama secara sukarela untuk mencapai suatu tujuan. Koperasi adalah perkumpulan orang-orang yang mengakui adanya kebutuhan yang sama di kalangan mereka. Kebutuhan yang sama ini secara bersama-sama diusahakan pemenuhannya melalui usaha bersama dalam koperasi. Koperasi merupakan perkumpulan orang-orang yang mengutamakan pelayanan akan kebutuhan ekonomi para anggotanya. Hal ini berarti bahwa koperasi harus mengabdikan dirinya kepada kesejahteraan bersama.

Kemudian yang menjadi fungsi dan peran koperasi menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian adalah :

  1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya,
  2. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat,
  3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya,
  4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Tujuan didirikannya koperasi menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian adalah memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sukanto Reksohadiprodjo; 1984 dengan demikian tujuan koperasi Indonesia diharapkan akan dapat menyumbang pada perkembangan perkoperasian negara sekaligus memungkinkan terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang telah menjadi cita-cita setiap orang. Tujuan ini tentu saja ditunjang oleh segenap masyarakat dan bila perlu mendapat bantuan dari masyarakat itu sendiri.

  1. Koperasi sebagai Soko Guru Perekonomian

Koperasi merupakan tulang punggung atau soko guru perekonomian Indonesia karena koperasi mengisi baik tuntutan konstitusional maupun tuntutan pembangunan dan perkembangannya. Koperasi merangkum aspek kehidupan yang sifatnya menyeluruh, substansif makro dan bukan hanya patrial mikro. Koperasi merupakan wadah penampung pesan politik bangsa terjajah yang miskin ekonominya dan didominasi oleh sistem ekonomi penjajah. Koperasi menyadarkan kepentingan bersama dalam meningatkan kesejahteraan dan kemampuan produkti. Dengan demikian koperasi menjadi penting sebagai organisasi perekonomian rakyat dalam perlawanannya terhadap penindasan sistem modal asing kolonial dan pemerintah kolonial. Koperasi adalah bentuk usaha yang tidak saja menampung tetapi juga mempertahankan serta memperkuat identitas dan budaya bangsa Indonesia. Kepribadian bangsa bergotong-royong dan kekolektifan akan tumbuh subur di dalam koperasi. Selanjutnya kperasi akan lebih terbangun dengan lebih menguatkan budaya itu (Pandji Anoraga; 1995). Sebagai wahana ekonomi kesokoguruan koperasi bersifat menyeluruh karena koperasi dapat hidup dalam bangun-bangun usaha lain yang bukan merupakan koperasi seperti dalam badan usaha negara (perusahaan negara) maupun di dalam instansi-instansi pemerintah lainnya.

Koperasi sebagai wadah yang tepat dalam membina golongan ekonomi kecil untuk secara bersama-sama meningkatkan usaha mereka sehingga tercipta kesejahteraan yang selama ini dicita-citakan. Kehadiran koperasi di tengah masyarakat merupakan penyelamat bagi kelangsungan hidup rakyat. Keberhasilan koperasi dalam mencapai tujuannya tergantung dari aktivitas para anggota koperasi. Apakah mereka mampu melakukan tugas yang telah diberikan, mampu menaati segala peraturan yang ada dan apakah mereka memliliki semangat dalam bekerja. Dengan demikian usaha untuk mencapai kesejahteraan mereka tergantung dari usaha atau aktivitas yang mereka lakukan sendiri. Koperasi memupuk kekuatan ekonomi bersama antar yang lemah untuk menghadapi kekuatan-kekuatan yang merugikan dan mematikan yang kecil-kecil. Koperasi disini memupuk kemandirian dan meningkatkan kemampuan produktivitas anggotanya melalui swakarsa dan swadaya, tetapi terutama memupuk kesadaran ekonomi dan solidaritas.

  1. PENUTUP
    1. Kesimpulan

Tanah air Indonesia terdiri daripada pulau-pulau besar dan kecil yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Maka sangatlah jelas bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam Suku, Ras, Bahasa, dengan tingkat penghidupan masyarakat yang berbeda-beda. Berbagai masalah akan timbul dari keberagaman tersebut. Salah satunya adalah kehidupan perekonomian Indonesia yang tidak merata. Terlebih dengan adanya penjajah yang ingin menguasai Indonesia yang berakibat semakin tingginya angka kemiskinan masyarakat. Untuk itu perlu adanya suatu pusat yang mengatur atas pemerataan keperluan hidup masyarakat di Indonesia. Dengan pemerataan tersebut diharapkan kesejahteraan rakyat Indonesia akan lebih terjamin dan merata menjangkau seluruh kalangan bawah. Untuk itu segala bentuk kekayaan alam yang ada di Indonesia yang dikuasai oleh negara haruslah digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang berbunyi : “Perekomomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”, maka Koperasilah yang sangat tepat sebagai salah satu alat melaksanakan perekonomian Indonesia.

Menurut Undang-undang Nomor 25 tahun 1992, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiataannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Dengan tujuan koperasi adalah memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pergerakan koperasi sudah ada sejak tahun 1898, dimana pada saat itu sudah mulai tampak adanya suatu pemerasan-pemerasan terhadap rakyat miskin dan kesengsaraan masyarakat bangsa Indonesia. Namun usaha yang dilakukan belum mencapai suatu keberhasilan dikarenakan beratnya tindasan dari penjajah. Dari situlah muncul perasaan dari masyarakat Indonesia betapa pentingnya pertumbuhan koperasi di negara  ini untuk mengangkat derajat hidup bangsanya. Koperasi merupakan tulang punggung atau soko guru perekonomian Indonesia karena koperasi mengisi baik tuntutan konstitusional maupun tuntutan pembangunan dan perkembangannya. Koperasi merangkum aspek kehidupan yang sifatnya menyeluruh, substansif makro dan bukan hanya patrial mikro. Koperasi merupakan wadah penampung pesan politik bangsa terjajah yang miskin ekonominya dan didominasi oleh sistem ekonomi penjajah. Dengan koperasi diharapkan rakyat kecil yang semula hanya bekerja menjadi petani penggarap sawah, kini dapat menjangkau dalam pemasaran padi yang dihasilkan melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh koperasi unit desa misalnya. Jelaslah bahwa koperasi sangat tepat untuk memberikan jalan keluar terhadap persoalan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu koperasi sebagai sistem ekonomi kerakyatan.

  1. Saran

Dewasa ini dunia telah mengalami suatu keadaan modern dimana semua hal yang menyangkut kehidupan perlu untuk terus diperbaharui dan diperbaiki agar tetap bisa bertahan. Begitu pula dengan keadaan koperasi yang harus selalu memperhatikan situasi lingkungan, kekuatan dan kelemahan koperasi pada waktu yang akan datang, serta kedudukan koperasi. Dalam hal tersebut perlu adanya suatu strategi, taktik dan kebijaksanaan untuk menghadapi persoalaan yang mungkin akan timbul dimasa yang akan datang. Dengan demikian diperlukan suatu sistem administrasi yang baik yang berguna sebagai dasar penganalisaan. Apabila data tidak tersedia dalam jumlah dan mutu yang dibutuhkan, proses menjajaki lingkungan dan koperasi tidak akan terlaksana atau bahkan koperasi akan mundur karena situasi lingkungan yang terus berkembang dan bertambah kompleks.

  1. DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji. 1995. BUMN, Swasta dan Koperasi. Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya.

Reksohadiprodjo, Sukanto.1984. Management Koperasi. Yogyakarta : BPFE.

Soeyanto, T. 1981. Koperasi. Jakarta : Yudhistira.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian.

it will rain

If you ever leave me, baby
Leave some morphine at my door
‘Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have
We don’t have it anymore

There’s no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor
So keep in mind all the sacrifices I’m makin’
Will keep you by my side
And keep you from walkin’ out the door

Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same if you walk away
Everyday, it’ll rain, rain, rain

I’ll never be your mother’s favorite
Your daddy can’t even look me in the eye
Oooo if I was in their shoes, I’d be doin’ the same thing
Sayin’ there goes my little girl
Walkin’ with that troublesome guy

But they’re just afraid of something they can’t understand
Oooo but little darlin’ watch me change their minds
Yea for you I’ll try I’ll try I’ll try I’ll try
I’ll pick up these broken pieces ’til I’m bleeding
If that’ll make you mine

Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same if you walk away
Everyday, it will rain, rain, rain

Oh don’t just say, goodbye
Don’t just say, goodbye
I’ll pick up these broken pieces ’til I’m bleeding
If that’ll make it right

Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
And there’ll be no clear skies
If I lose you, baby
And just like the clouds
My eyes will do the same if you walk away
Everyday, it’ll rain, rain, rain

MUNCULNYA SUATU MASYARAKAT PASCA INDUSTRI

Salah satu karya sosiologis dari Daniel Bell ialah The Coming of Post-Industrial Society (1973). Bell meramalkan munculnya di masa datang yang dekat ini suatu masyarakat pasca industri, suatu tipe masyarakat yang telah maju yang terutama di Amerika Serikat tapi juga akan berkembang di masyarakat industri maju lainnya. ciri yang paling fundamental kemunculan masyarakat ini ialah penekanan pada produksi jasa, bukannya barang, dan khususnya jenis jasa-jasa tertentu. Sementara masyarakat industri memberikan jasa-jasa dalam bidang transportasi, pelayanan dan telekomunikasi, masyarakat pasca industri memberikan jasa-jasa yang meliputi pendidikan, kesehatan dan ilmu pengetahuan.

Munculnya masyarakat pasca industri akan mencakup terjadinya suatu transformmasi besar dalam masyarakat. Suatu masyarakat industri, menurut Bell, didasarkan pada harta benda; suatu masyarakat pasca industri di pihak lain, bertumpu pada suatu pengetahuan khususnya pengetahuan teoritis. Munculnya masyarakat pasca industri akan menandai terjadinya transisi dari suatu teori nilai kerja sampai kepada suatu “teori nilai pengetahuan”. Perubahan dalam dasar kehidupan sosial ini juga ditandai oleh adanya suatu perubahan dalam struktur kelas. Kelas sosial baru yang dominan bukan lagi suatu borjuis pemilik harta benda, tetapi suatu “intelegensia sosial”, yaitu suatu kelas individu-individu yang berpendidikan tinggi yang dominasi sosialnya bertumpu pada dimilikinya oleh mereka pada bentuk-bentuk pengetahuan teritis yang maju. Anggota kelas ini yang peling penting adalah para guru, dokter, pengacara, ilmuwan, dan insinyur yakni orang-orang yang kepada siapa pekerjaan itu menjadi suatu “kompetisi antar orang” bukannya suatu kompetisi antar suatu orang dan barang.

Jadi, bagi Bell masyarakat pasca industri ialah masyarakat yang karakter menyeluruhnya adalah jauh berbeda dari masyarakat industri atau kapitalis. Keinginan untuk memperoleh laba bukan lagi merupakan kekuatan penggerak kehidupan ekonmi dan sosial. Kehidupan menjadi terorientasi sekitar akumulasi pengetahuan dan penggunaannya untuk kebaikan manusia. Perusahaan-perusahaan akan tersubordinasi dibawah apa yang disebut Bell sebagai sociologizing mode. Ini berarti penekanan mereka bergeser ke arah pemberian keuntungan  yang ekstensif kepada karyawan mereka maupun ke arah “tanggung jawab sosial” mereka. Masyarakat pasca industri juga memberikan penekanan terhadap waktu luang, orang memperoleh bentuk-bentuk pendidikan yang maju bukan hanya untuk kegunaan sosial yang penting, tapi untuk meningkatkan kesenangan dan intelektual. Pada umumnya masyarakat pasca industri akan lebih baik pendidikannya dibanding dengan masyarakat industri.

Meskipun pendapat Bell telah diterima oleh banyak ahli sosiologi kontemporer, masih banyak kekurangan atau kesulitan-kesulitan dasar seperti yang dikemukakan oleh Stephen Berger (1974). Berger menyatakan bahwa banyak perkembangan yang dinyatakan oleh Bell tidak mewakili kemunculan suatu tipe masyarakat baru yang bertenntangan dengan kapitalisme. Ekspansi pelayanan pemerintah misalnya, dapat dipahami sebagai suatu langkah yang harus dalam manajemen politik suatu masyarakat kapitalis maju. Berger mengatakan bahwa motivasi sejati di balik ramalan teknologi adalah bersifat militer, dan kebanyakan daripada ekspansi ilmu pengetahuan akhir-akhir ini adalah disebabkan oleh keterlibatan pemerintah dalam pertahanan dan penjelajahan luar angkasa. Argumen Berger terhadap Bell dinyatakan sebagai berikut (1974:102):

Saya hendak menandaskan bahwa perubahan-perubahan itu, jika memang riel, hanya menunjukkan operasi logika industri yang dilanjutkan. Logika itu seperti yang dilandaskan oleh… Karl Marx, mencakup pembesaran yang terus-menerus daripada bidang-bidang kerja manusia yang didominasi oleh produksi kmoditas dan digunakannya terus-menerus para ilmuwan dan insinyur untuk menciptakan mesin-mesin dan cara-cara berorganisasi untuk menggantikan dan mengontrol para pekerja….

…..Pergeseran dari barang ke jasa dan dari pekerja manual ke profesional dan teknik memang wajar dalam suatu analisis dinamika kapitalisme.

Catatan-catatan Berger tersebut merupakan komentar kritik terhadap Bell. Orang ragu terhadap pengertian Bell bahwa suatu intelegensia tanpa harta benda akanmuncul sebagai kelas yang dominan. Saya percaya, suatu interpretasi yang lebih baik akan menganggap bahwa kelompok demikian, sampai sejauh keberadaannya, tidak memiliki kekuasaan sosial yang nyata dan karena itu tidak mempunyai kemampuan pelayanan bagi sistem kapitalis. Bagaimanapun, kebanyakan guru, insinyur dan ilmuwan dipekerjakan dalam birokrasi pemerintahan yang besar. Seperti yang dicatat oleh Berger, birokrasi-birokrasi pemerintaha itu dapat dipandang dari perspektif ekspansi pemerintahan yang didorong oleh kapitalis. Komentar kedua mengenai pembahasan Bell mengenai pendidikan. Dalam hal ini Bell agaknya membaurkan pendidikan dan “pengajaran” (Scholing) (Berger, 1974). Sementara memang benar pengajaran telah meluas dengan suatu skala yang besar di Amerika Serikat kontemporer, tapi ini janganlah ditafsirkan, seperti yang agaknya dilakukan leh Bell, sebagai akibat dari kebutuhan dan keinginan yang semakin besar untuk memperoleh pengetahuan. Interpretasi yang lebih baik ialah bahwa pengajaran (Scholing) telah meluas sebagai akibat adanya proses inflasi surat kepercayaan yang karakteristikpada masyarakat Amerika.

Sanderson, Stephen K. 1993. Sosiologi Makro : Sebuah Pendekatan terhadap Realitas Sosial. Jakarta : Penerbit PT RajaGrafindo Persada.